Wednesday, November 13, 2013

MAKALAH ENTREPRENEURSHIP



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Dewasa ini, terdapat banyak sekali usaha yang berkembang pesat dan melahirkan usaha – usaha baru diberbagai bidang,terutama pada perkembangan teknologi. Saat ini usaha-usaha dibidang teknologi menjadi tren yang sangat berkembang di indonesia.Salah satu sektor teknologi yang banyak diminati oleh para pelaku IT  adalah bisnis ilmu teknologi.

Inovasi merupakan kemampuan untuk menerapkan solusi – solusi kreatif terhadap masalah – masalah dan peluang – peluang tersebut,guna memajukan atau memperkaya kehidupan manusia. Dalam memulai berbisnis seseorang harus berani mengambil resiko – resiko ( risk taking ) contohnya dengan menggunakan uang tabungannya bahkan untuk meminjam uang seakalipun hanya berdasarkan keyakinan bahwa ia sanggup menghasilkan produk – produk yang berkualitas dan dengan biaya yang murah. Dalam kaitanya dengan suatu bisnis , resiko merupakan kemungkinan kerugian yang dihubungkan dengan asset dan potensial pendapatan perusahaan.

Seorang entrepreneur yang baik, harus bisa menjadi seorang pemimpin yang mampu mempengaruhi para karyawan untuk melakukan sesuatu pekerjaan sehingga karyawan dapat memunculkan ide – ide serta kinerja terbaik dan seoran pemimpin juga harus dapat melakukan pendekatan efektif bagi para bawahanya agar karyawan dapat merasa dihargai dan secara tidak langsung mereka akan dapat memberikan kontribusi penuh terhadap perkembangan perusahaan.  Oleh karena itu peran entrepreneurial leadership sangatlah penting untuk diterapkan dalam suatu kewirausahaan karena hal itu salah satu kunci keberhasilan dalam perusahaan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini adalah :

1.      Apa saja jenis usaha yang sukses sesuai cinta-cita?

2.      Apa saja jenis usaha yang sukses di lingkungan sekitar anda sesuai cita-cita?

3.      Siapa saja mahasiswa yang sukses menjadi pengusaha?’

 

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tujuan dan manfaat dalam pembuatan makalah ini adalah :

1.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Entrepreneurship.

2.      Dapat mengetahui jenis usaha yang sukses sesuai cinta-cita

3.      Dapat mengetahui jenis usaha yang sukses di lingkungan sekitar anda sesuai cita-cita

4.      mengetahui siapa saja mahasiswa yang sukses menjadi pengusaha

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.   Jenis Usaha Sukses Sesuai Cita-cita

1.   Warnet

Warnet Gue - Salman Aziz Alsyafdi

Warnet Gue adalah Waralaba Warnet dan bukan jasa instalasi warnet. Jika Jasa Instalasi Warnet hanya menyediakan komputer dan pemasangan komputer warnet lalu meningallkan anda setelah selesai instalasi. Maka  bersama Warnet Gue Anda akan mendapatkan sistem menyeluruh terhadap usaha warnet seperti manajemen pegawai, supervisor, pencarian pegawai, survei lokasi, ilmu warnet, furniture berkualitas, training, pembinaan dan support selama kerjasama serta komputer2 dan furniture berkualitas.
Berawal dari jual nasi goreng dan buku foto kopian, bisnis Salman terus berkmebang ke segala arah. Dari warnet dan penyewaan komputer, toko foto, hingga laundry, dan usaha salon. Modalnya bukan uang, melainkan kejelian membaca peluang, kemauan dan kreativitas.
Modal Utama Berusaha
Modal utama berusaha adalah kemauan dan kreativias, bukan uang. Salman Azis Alsyafdi telah membuktikannya. Bisnisnya dirintis tanpa modal uang sepeser pun.  Yang dilakukannya adalah jual beli - ya, jual beli, bukan berjualan nasi goreng.
Begini kisahnya. Pada tahun 2003, sebagai siswa SMU Insan Cendekia sekolah berasrama (boarding school) di Serpong, Salman dan kawan-kawan tak jarang merasa bosan dengan menu makanan yang disediakan pihak asrama. Mau mencoba makanan lain  tidak bisa, tidak ada kantin yang menjual jajanan. Namun keadaan ini justru menggelitik naluri bisnis Salman. la menanyakan siapa saja yang ingin membeli makanan di luar asrama. Lalu bersama dua rekannya,  ia naik sepeda hingga 3 km mencari tukang nasi goreng yang murah dan enak, dan menjualnya lagi kepada pemesan tadi.
Usaha ini tidak membutuhkan modal sama sekali, karena sebelum membeli makanan ke pedagang ia sudah meminta uangnya kepada siswa yang ingin beli. Wajah Salman menerawang, namun bibirnya menyungging senyum. "Saya mengingat peristiwa itu seolah seperti baru kemarin," katanya.
Jika Salman begitu terobsesi dengan berwirausaha, itu gara-gara ketika ia masih duduk di bangku SMU bapaknya memberikan buhu berjudul Rich Dad Poor Dad, karya fenomenal Robert T. Kiyosaki. Ia mengaku menemukan sebuah pilihan hidup yang sangat menarik karena terinspirasi buku itu, pilihan untuk menjadi pengusaha. "Sebagai manusia saya tidak ingin untuk mengikuti arah arus yang ditetapkan sejumlah orang. Saya ingin menciptakan arus itu sendiri," ujarnya.

Tamat dari sekolah berasrama ini, pria kelahiran Jakarta, 11 Februari 1986 ini diterima di Fakultas llmu Komputer (Fasilkom) UL Meli­hat buku-buku teks kuliah di Fasilkom yang be­gitu besar dan tebal, serta jumlah mahasiswanya yang mencapai ratusan, muncul gagasan untuk berjualan foto kopian buku. Untuk berbisnis buku foto kopian ini ia membagikan selem­bar kertas kepada teman-temannya sesama mahsiswa. Isinya, "Bagi yang ingin pesan buku foto kopian silakan tulis di sini." Karena jumlah mahasiswa Fasilkom tiap angkatannya cukup besar, jumlah yang memesan buku foto kopian ini cukup ba­nyak. Uang muka pesanan inilah yang menjadi modal Salman untuk membeli buku aslinya. Pembayaran kepada tukang foto kopi dilaku­kan secara mencicil, seiring dengan pelunasan biaya buku foto kopian oleh teman-temannya.

“Sebagai manusia saya tidak ingin mengikuti arah arus yang ditetapkan sejumlah orang. Saya ingin menciptakan arus itu sendiri.”
Salman tak pernah berhenti mencari peluang baru. la mengamati banyak sekali mahasiswa Fasilkom yang membutuhkan komputer, sarana wajib bagi perkuliahan mereka. Para mahasiswa dari fakultas lain pun banyak yang membutuhkan komputer untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas. Namun di waktu itu, awal tahun 2004, belum ada toko komputer yang menjual komputer murah branded.
Biodata Salman Aziz Alsyafdi
Di Jakarta, pada tanggal 11 Februari 1986 telah lahir seorang laki-laki bernama Salman Azis Alsyafdi. Salman merupakan salah satu pengusaha muda yang bisa dibilang sangat sukses! Jiwa wirausahanya sudah timbul sejak dia kecil.
Salman sangat jeli melihat setiap peluang, setiap permasalahan dijadikan lading bisnis olehnya. Ketika Salman duduk dibangku SMU, saat itu dia masuk kedalam sekolah asrama. Disekolahnya, salman sering merasa bosan dengan menu makanan yang sering dihidangkan oleh pihak sekolah. Karena keadaan inilah Salman mulai mencoba peluang bisnis yang pertama yaitu berjualan! Tapi yang dilakukan Salman berbeda, dia tidak menjual makanan melainkan menjual jasa pembelian makanan. Langkah pertama yang ia lakukan adalah, Salman menanyakan kepada teman-temanya siapa saja yang ingin membeli makanan diluar. Setelah mencatat pesanan teman-temanya, Salman yang dibantu dua temannya yang lain keluar asrama dan mencari tukang nasi goring yang enak dan yang paling murah. Begitulah cara Salman berwirausaha. Tidak perlu modal sedikitpun asalkan mempunyai niat dan kerja keras maka segala sesuatu pasti akan terjadi! There is nothing impossible as long as we want to try.
Setelah tamat SMA, Salman melanjutkan studynya di Universitas Indonesia. Selama Salman kuliahpun dia tetap mencoba untuk berwirausaha. Usaha yang dilakukan sering sekali tidak menggunakan modal sama sekali, contohnya berjualan buku Foto kopian kepada teman-teman mahasiswa, berjualan komputer rakitan. Bahkan waktu Salman kuliah dia berhasil mendirikan sebuah usaha warnet. Bersama temanya dia mulai merintis warnet yang dinamakan warnet gue.
Dalam merintis sebuah warnet, ternyata jalan Salman tidak semulus jalan TOL. Banyak hambatan yang dia temui. Dari mulai kekurangan modal hingga diancam karena persaingan tapi semuanya dijadikan Salman sebagai pemicu untuk berusaha lebih keras lagi.
Kini usaha warnetnya tersebar di daerah Tanggerang. Tidak hanya itu Salman juga membuka usaha penjualan dan servis komputer didaerah Serpong. Semua ini tidak akan tercapai tanpa adanya kerja keras dan tekad yang tinggi.
2.   Toko Komputer
Harli-Vivi Komputer - Harli Sadono & Sonia Viviani
Di dunia modern sekarang ini, tidak ada jaminan seorang sarjana mudah mendapat pekerjaan. Berbagai perusahaan semakin selektif menerima karyawan. Persaingan makin tinggi. Ujung-ujungnya, mereka yang tersisih malah menambah angka pengangguran.
Jika ditarik lebih dalam, tingginya angka pengangguran juga berkaitan dengan paradigma kebanyakan mahasiswa yang berpikir untuk ''bekerja kepada orang lain''. Setelah lulus, mereka sibuk melamar bekerja di mana-mana, bukan berpikir untuk membuka usaha sendiri.

Pola pikir ini bukan datang tiba-tiba. Sejak kecil, orangtua kerap menjejali pemikiran anaknya agar bercita-cita jadi pilot -misalnya- yang notabene bekerja kepada orang lain. Bukan mengarahkannya menjadi pengusaha (bekerja kepada diri sendiri dan untuk orang lain).

Memulai berbisnis sejak mahasiswa adalah sebuah pilihan. Apalagi jika ingin meraih kesuksesan di bidang finansial lebih cepat. Modal bukanlah hambatan. Simak pengakuan Harli Sadono dan Sonia Viviani. Sepasang kekasih ini hanya bermodal Rp 1 juta untuk berjualan hardware komputer.

Ditemui di AMD Center, tokonya di Jalan Wonodri Krajan III/67, Semarang, Harli mengaku memulai usahanya sejak kuliah, tepatnya tahun 2003. Semula hanya menawarkan jasa kepada teman kuliah yang ingin membeli komputer. ''Waktu itu, kita keliling dari toko ke toko, juga mendatangi sesama teman kuliah, untuk menawarkan produk,'' kata Harli.

Dua tahun kemudian, 2005, ia sudah punya toko sendiri. Kini AMD Center menjadi distributor resmi dari Jakarta. Dengan laba bersih sekitar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan, lulusan Sistem Informatika Udinus Semarang ini mampu membuka lapangan kerja bagi teman-teman semasa kuliah.

''Yang penting jangan pantang menyerah. Meski berawal dari modal kecil, namun karena yakin, usaha ini berkembang dengan pesat seperti sekarang.''

3. Konter
Ivena Cell - Riana Dyaningstyas


Riana Dyaningstyas, seorang ibu muda kelahiran 1982, begitu senang berbisnis untuk mengisi waktu luang. Bermodal uang sebesar Rp. 3.000.000 ia membuka took pulsa fisik maupun pulsa elektrik di rumahnya sendiri pada tahun 2005.
Dana tersebut digunakannya untuk membeli etalase seharga Rp.900.000 (berukuran sekitar 180 cm dengan rak dua tingkat). Satu juta rupiah dialokasika untuk membeli pulsa yaitu Rp.500.000 untuk voucer pulsa fisik dan Rp.500.000 untuk pulsa elektrik. Persediaan kartu perdana diberli sekitar Rp.400.000 dan sisanya sebesar Rp.700.000 dibelanjakan untuk membeli ponsel bekas, casing, dan aksesoris ponsel.

Pada tahun 2007, ia memutuskan untuk mengembangkan usahanya dengan menyuntikkan modal Rp. 10.000.000. Modal tersebut digunajan untuk menambah barang grosiran dan pulsa elektrik. Selain itu karena sempat menangguk kerugian akibat pembeli tidak langsung membayar, kini tokonya tidak lagi memberi hutangan bagi pembeli.

Ivena Cell juga memiliki jaringan dowline pulsa elektrik sebanyak delapan puluh buah. Namun transaksi yang aktif hanya sekitar 40 Downline. Jumlah transfer dana pulsa elektrik perhari mencapai Rp. 5.000.000 hingga Rp.6.000.000 dengan keuntungan Rp. 150 per transaksi.
Jika setiap konter bawahannya bisa melakukan transaksi sepuluh kali perhari, keuntungan dari empat puluh konter saja sudah mencapai Rp. 150 x 10 transaksi x 40 konter = Rp. 60.000 perhari. Sementara itu, keuntungan perbulan Sebesar 30 hari x Rp. 60.000 = Rp. 1.800.000

Margin penjualan voucer di Ivena Cell sekitar Rp. 1.000 – Rp.2.000 per transaksi. Biasanya  persediaan pulsa habis dalam jangka waktu satu hingga dua minggu.

2.   Jenis Usaha Sukses di Lingkungan Sekitar sesuai Cita-cita

  1. Warnet – Jasa Pengetikan
Nasa Komputer – Rudi Antonius & Dedy Saputra

Warnet Nasa Komputer adalah jenis usaha yang di bangun pada tahun 2009 oleh Rudi Antonius dengan bantuan modal Dedy Saputra. Dua kakak beradik ini mempunyai keinginan yang sama untuk merubah nasib menjadi lebih baik, dan tentunya ingin sukses.

Dengan bermodalkan uang berkisar Rp. 25.000.000 Warnet Nasa Komputer dapat dibangun, awalnya khawatir dengan perkembangan usaha ini nantinya. Karena berdasarkan faktanya, di daerah ini (Martapura) tidak ada warnet yang bertahan lama, setahun dua tahun sudah tutup.

Alhamdulillah, Warnet Nasa Komputer sudah berjalan selama 4 Tahun. Pengunjungnya pun tidak hanya dari 1 daerah bahkan banyak juga yang dari kabupaten lain. Setiap usaha pasti tidak luput dari yang namanya kendala, baik fasilitas maupun sarana juga karyawan. Namun itu tidak menjadi penghalang, Pemilik Nasa Komputer tetap memperbaiki dan mampu mengatasi kendala tersebut. Untuk  saat ini penghasilan Bersih Nasa Komputer Mencapai Rp. 7.000.000 per Bulan. Pemilik Warnet Nasa Komputer pun dapat mencari pendapatan dari jenis usaha lain karena Warnet Nasa Komputer sudah mempunyai 2 Karyawan.

Warnet Nasa Komputer terletak di daerah yang strategis di Jalan Merdeka Dusun IV Cidawang Martapura Kab. OKU Timur.

  1.  Konter
An-Nur Cell - Supri

An-Nur Cell adalah usaha konter Handpone dan Aksesories handpone yang juga melayani servis Handpone. Modal awal usaha ini Rp.20.000.000. Kini penghasilan bersih perbulan yang di dapat dari Konter ini mencapai Rp. 10.000.000.

An-Nur Cell terletak Di Cidawang Martapura kel. Paku Sengkunyit Martapura. Memiliki 3 Karyawan 2 untuk Shif siang 1 untuk shif malam. Menurut saya An-Nur Cell merupakan konter yang menjual dengan harga miring dari pada yang lain. Oleh sebab itu banyak pengunjung yang berdatangan di An-Nur Cell. Sehingga menambah penghasilan untuk konter An-Nur Cell.
3.      Mahasiswa Yang Sukse Menjadi Pengusaha

a. Jualan Gorengan – Riyand

Semua orang tentu mengenal makanan gorengan. Bukan hal sulit menemukan penjual gorengan di jalanan. Tidak bisa dipungkiri, banyak orang yang doyan makan gorengan.

Fenomena ini rupanya ditangkap oleh Riyadh Ramadhan, seorang mahasiswa berusia 19 tahun, lulusan SMA Al Hikmah Surabaya. Dia jeli melihat makanan gorengan sebagai potensi untuk berbisnis.

Riyadh menceritakan, aktivitas bisnisnya sebenarnya sudah dimulai sejak dia duduk di bangku Sekolah Dasar. Ketika itu dia biasa menjual mainan anak-anak dan gambar tempel kepada teman-teman sekolahnya. Dia mengatakan inspirasi menjadi pebisnis didapat dari kedua orang tuanya yang juga pebisnis yang sukses mengelola lembaga pendidikan.

Proses Riyadh terjun ke bisnis makanan gorengan ini dimulai ketika dia masih berusia 16 tahun, saat masih duduk di bangku SMA. Tahun 2009, berawal dari hobi memasak dan melihat peluang usaha, dia berinisiatif menjual gorengan kepada teman-teman sekolahnya. Semua itu awalnya dia lakukan secara otodidak.

"Saya melihat di Surabaya banyak penjual gorengan, lalu saya berpikir untuk membikin sendiri," kata Riyadh. Dengan restu dan izin kedua orang tuanya, Riyadh memulai bisnis gorengannya di sekolah. Awalnya dia sempat merasa risih dan malu karena banyak teman yang mengejeknya. Namun dia tetap berpikir positif untuk terus mengembangkan bisnisnya. Setelah berjalan setahun ternyata bisnis gorengannya makin laris hingga dia berpikir untuk membuka kafe gorengan di mal.

Dengan bekal keuntungan setahun dan bantuan dana dari orang tuanya, Riyadh mulai membuka kafe gorengan di salah satu mal di Surabaya dengan nama Go Crunz. Di kafe itu dia menyediakan menu gorengan, seperti kentang, jamur, ayam, dan otak-otak ikan. Selain gorengan, dia juga menyediakan beragam pilihan minuman. Dengan harga Rp 6.000-Rp 9.000 per kotak yang berisi empat sampai lima gorengan ternyata banyak orang menyukai gorengan Riyadh. Tak seberapa lama, dia pun membuka dua gerai baru.

Dari ketiga gerai itu, total omzet yang didapatnya mencapai Rp 120 juta per bulan, dengan laba sekitar 40 persen dari omzet. Pada Oktober 2010 Riyadh pun resmi menawarkan kemitraan usaha. Hingga kini Riyadh telah memiliki 12 gerai usaha yang tersebar di beberapa kota, antara lain Jakarta, Bekasi, Malang, dan Balikpapan.

Meraih kesuksesan di usia muda mungkin menjadi impian banyak orang. Namun bagi Riyadh Ramadhan impian itu kini telah diraihnya menjadi kenyataan. Bisnis gorengannya tumbuh cukup 'subur'. "Saya ingin beberapa tahun ke depan bisa go international," ucapnya.
Kisah sukses bisnis gorengan berhasil mengantarkan Riyadh dinobatkan sebagai Entrepreneur Termuda 2010 versi Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

b. Tas 'GEMBOOL' –Vidia Chairunnisa


Peluang WiraUsaha di bidang Fashion masih sangat menjanjikan, kesuksesan Vidia Chairunnisa (25) merupakan salah satu contoh. Ketika masih berkuliah di Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Vidia melihat peluang yang besar untuk berbisnis. Vidia melihat adanya kebutuhan teman-teman untuk tampil modis dengan modal bersahabat. Alhasil, tahun 2009 Vidia memberanikan diri berdagang tas-tas murah yang Vidia ambil dari Bandung. Tak disangka, ternyata laku keras! Vidia pun mulai coba-coba ikut pameran untuk meraup pasar yang lebih luas.

Karena terbatasnya desain tas yang Vidia beli jadi, setahun kemudian Vidia pun mulai membuat tas sendiri dengan label Tas Lutjuw. Vidia memodifikasi desain yang sudah ada dari majalah dan internet, lalu Vidia minta dibuatkan oleh perajin tas di Bogor. Vidiangnya, sistem jasa pembuatan barang ke pihak lain yang disebut makloon ini lemah dalam hal quality control pengerjaan. Vidia juga tidak bisa menetapkan material atau aksesori yang digunakan. Produk Vidia pun tak maksimal karena Vidia dipaksa membeli material berkualitas rendah yang telah mereka sediakan dengan finishing seadanya.

Tidak puas dengan hasilnya, akhirnya tahun lalu Vidia nekat membuat workshop sendiri dan mulai meluncurkan produk dengan label Gembool. Vidia pun mempekerjakan 50 wanita perajin di kampung Cihampea, Bogor, untuk membuat tas-tas yang kemudian Vidia beri label Gembool (baca: gembul). Ide nama ini datang dari konsep tasnya yang fun, warna-warni, dan terasa dekat dengan remaja. Kata gembul juga identik dengan banyak uang dan makmur. Harapannya, sih, rezeki bisa lancar.
Vidia sengaja membidik pasar remaja wanita karena lebih menguntungkan. Namanya juga anak ABG, biasanya centil, konsumtif, dan sering gonta-ganti tas yang dipadu-padankan dengan busananya.

Dalam riset pasar yang Vidia lakukan, remaja mencari produk yang trendi, tapi harganya murah, sesuai dengan daya beli mereka. Jadi, pemilihan bahan pun Vidia sesuaikan untuk menekan biaya produksi dan harga jual. Meskipun menggunakan material yang biasa,  Vidia meningkatkan kualitas produk lewat finishing yang rapi. Ini yang menjadi kekuatan Gembool. Produk Gembool yang handmade terjaga betul kerapian jahitan dan lemnya. Kami juga memberikan layanan garansi hingga setahun untuk reparasi gratis bila terjadi kerusakan.

Agar bisa kompetitif di pasar, Vidia berusaha terus update perkembangan tren. Misalnya saja, tren yang berkembang saat ini adalah model-model tas ala Korea, maka produksi tas Vidia banyak memodifikasi model-model ala Korea yang banyak bermain di warna-warna pastel, tabrak warna, dan animal printing.

Pasar remaja itu sensitif terhadap desain yang up to date, bervariasi, dan harga ketimbang kualitas material. Karena itu, Vidia harus bisa menyediakan barang-barang trendi yang murah meriah. Karena remaja suka warna-warna ngejreng, Vidia pun menyediakan banyak pilihan warna. Untuk  tiap desain tas tersedia 8-10 pilihan warna, sedangkan untuk dompet maksimal diproduksi 15 warna yang berbeda. Tiap dua bulan sekali Vidia mengeluarkan 2-3 model baru

Memaksimalkan Jaringan Reseller
Dalam seminggu, Vidia bisa memproduksi 10 lusin tas dan 25 lusin dompet (termasuk sarung ponsel dan organizer). Harga dompet antara Rp45.000-Rp115.000, sedangkan tas Rp125.000-Rp179.000.

Untuk pemasaran, Vidia bekerja sama dengan banyak toko online besar, seperti lazada, zalora, blibli. Selain itu, Vidia memiliki sekitar 50 reseller yang tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga ke negeri jiran.

Kebanyakan resellers ini menjual kembali produk Vidia lewat media sosial dan toko online mereka dengan sistem drop shipping. Tidak ada syarat minimum order bagi reseller untuk mendapat potongan harga sebesar 15% per unit. Ada juga reseller yang rutin membeli minimum Rp5 juta sekali order. Biasanya, mereka akan menjual produk Vidia di toko offline mereka. Untuk membantu penjualan para reseller, Vidia menyediakan katalog produk. Dengan perpanjangan tangan seperti ini, Vidia berhasil meraup omzet rata-rata Rp200 juta - Rp250 juta per bulan.

Setelah berhasil dengan lini remaja, Vidia mulai terpikir mengembangkan Vidiap dengan menyasar wanita dewasa di bawah label Bagtitude,  sejak November lalu. Pilihan warnanya lebih konservatif, yaitu cokelat, hitam atau ivory dengan penggunaan material yang lebih baik. Harga jualnya pun lebih tinggi, yaitu minimal Rp350.000.


c. Kuliner Aqiqah – Andi Nata

Andi Nata seoarang Mahasiswa Universitas Indonesia, berhasil mengembangkan usaha masakan aqiqah. Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ketujuh kelahiran seseorang anak sebagai tanda syukur bagi kaum muslim. Andi juga membagi cara bagaimana sukses mengelola usaha kuliner Aqiqah hingga beromzet ratusan juta rupiah per bulan. Berikut triknya
Ia mengaku menekuni bisnis kuliner tidak selalu bisa masak. Berkaca pada kemampuannya yang sama sekali tidak bisa masak namun ingin punya bisnis kuliner, dirinya harus mencari juru masak handal. Sangat susah mencari juru masak yang enak dan mau diajak kerjasama. Tak habis akal Andi pun melancarkan berbagai trik, salah satunya bersilaturahmi atau mengunjungi orang-orang yang menjadi target. Ini kata andi
Ya, dengan niat bersilaturahmi orang tak akan mungkin mengusir saya, walaupun kenal saja tidak. Sambil main ke rumah juru masak yang saya incar, hampir tiap hari tidak lupa membawa jajanan, seperti coklat, biskuit, dan lain-lain untuk anaknya, ya istilahnya nyogok
Akhirnya, hampir 2 minggu silaturahmi sambil mengungkapkan keinginan tulusnya, akhirnya si juru masak yang menjadi target itu mau. Si juru masak mau jalin kerjasama.
Apa yang membuat usaha aqiqah yang diberi nama Raja Aqiqah. Klaim Andi tidak lain karena kualitas bahan utama dan cita rasa masakannya yang jauh dibandingkan yang lain. Bahan bakunya bukan kambing seperti pada umumnya, tapi daging domba yang merupakan perkawinan domba Afrikan F1 dengan domba Jawa Barat. Hasilnya dagingnya empuk dan tidak amis, apalagi yang paling utama tidak mengandung kolestrol
Keunggulan tersebut membuat pelanggannya senang, dan menjadikan rekomendasi para calon pelanggannya yang lain. Tidak kurang dalam sehari 2-5 domba yang disembelih atau rata-rata 100 domba tiap bulan. Perhitungan bisnis Andi sederhana, dalam sebulan tidak kurang ada 1.000 acara aqiqah hanya di Jakarta saja. Kalau saya ambil pasar 2% saja, sudah besar sekali. Ia menyatakan saat ini omzet bisnisnya bisa mencapai Rp 400 juta per bulan.

d. Warnet – Salman Azis Alsyafdi

 Ini adalah kisah sukses seorang pelajar yang bisa melihat peluang. Dimulai dari asrama hingga membuka usaha di luar kampusnya. Dia bernama Salman Azis Alsyafdi, S.kom.
Awal dia mengambil dari keuntungan nasi goreng yang dia beli kemudian d jual lagi kepada para siswa di asramanya, usahanya ini tanpa modal sama sekali hanya mengandalkan kemauan untuk berusaha. Salman tidak begitu saja mau terjun lebih jauh lagi, sejak membaca buku berjudul Rich Dad Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki. Kata-kata yang masih ia ingat dalam buku tersebut adalah “Sebagai manusia saya tidak ingin untuk mengikuti arah arus yang di tetapkan sejumlah orang. Saya ingin menciptakan arus itu sendiri.”
Tamat dari asrama, pria ini di terima di Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UI. Di tempat ini juga dia mendapatkan inspirasi untuk berbisnis buku foto kopian. Dengan strategi menyebarkan selebaran-selebaran kepada teman-temannya. Modal untuk usaha ini dia belikan buku aslinya untuk di perbanyak. Peluang ia cari terus hingga memiliki ide untuk membuka usaha menjual koputer rakitan untuk para mahasiswa.
Dengan mengubah suatu masalah menjadi sebuah peluang, Salman berinisiatif membuka sebuah warung internet dengan modal yang ia kumpulkan dan sebagian meminta kepada orang tuanya. Usaha ini di sambut dengan baik oleh pemimpin asrama Pak Umar. “Warnet gue” nama yang dipakai agar mudah di ingat dan familiar. Tidak hanya sukses d sini saja Salman pun membuka usaha warnetnya di luar asrama.
Hidup memang tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan, usaha warnet keduanya ini pun memiliki kendala mulai persaingan harga hingga didatangi sekelompok preman yang membawa senjata tajam. Warnet ini pun tutup karena prospek yang tidak menjajikan.
Tidak berhenti Salman berusaha membuka usaha warnetnya d berbagai daerah antara lain Pamulang, Ciputat dan di wilayah Tangerang,Banten. Hingga dia meraih juara 2 kategori mahasiswa program diploma dan sarjana lomba wirausaha muda mandiri 2007.

e. Pengusaha Tempe – Teguh Wakyudi

Teguh Wahyudi, Presiden Direktur Sariraya co. ltd adalah satu dari contoh mahasiswa Indonesia yang sukses membangun jaringan bisnis di negeri sakura. Bukan hanya aktif mengelola usahanya yang kian meluas, tetapi juga aktif dalam setiap kegiatan masyarakat Indonesia di Jepang, khususnya di Kota Nagoya.
Bahkan untuk kegiatan Iedul Fitri kemarin, Teguh Wahyudi memiliki andil besar, member jaminan pada pihak kepolisian, bahwa kegiatan ini adalah murni ritual keagamaan dan tidak akan berdampak keributan. Maklum pihak kepolisian jepang, masih khawatir dengan berita di TV jepang, bahwa pelaksanaan pembagian zakat yang merupakan ritual keagamaan Islam, di pasuruan sempat menimbulkan banyak korban jiwa.
Ketika saya diundang datang ke pabrik tempe miliknya usai khutbah Iedul Fithri, Teguh Wahyudi menuturkan pengalamannya: semua ini berawal dari kegiatan pembuatan tempe untuk dikonsumsi sendiri (atau sebagai aktiviats di waktu luang/hari libur) . Kegiatan tersebut pertama kali dilakukan akhir Agustus tahun 2003, di tempat Kakak (Anjo-shi, Aichi-ken, Japan).
Kegiatan tersebut bertahan sampe awal November 2003, dan sebagai akhir dari kegiatan, sempat produk tempe tersebut di promosikan ke Toko halal food yang ada di wilayah Anjo-shi dan sekitarnya, Alhamdulillah hasil produksi tempe sebagai pengisi waktu luang akhirnya bisa diterima oleh halal food dan masyarakat Indonesia yang ada di Mikawa dan sekitarnya.
Tanggal 30 Maret 2004 saya kembali lagi ke Jepang, saat itu saya membawa Visa study, waktu itu kakak berusaha membantu mencarikan sekolah sekaligus menguruskan Elegebilitynya. Tanggal 30 Maret 2004 yang ke dua kali saya datang ke Jepang, dengan tugas utama adalah belajar.
Disamping belajar saya juga ada kerja Partime (Arubaito), karena sabtu dan minggu saya libur saya memulai lagi untuk membuat tempe, ada usulan dari teman-teman, (Untuk menjual produk tempe tersebut ke Apato-apato atau tempat tinggal teman-teman Indonesia. Akhirnya usulan itu saya coba, dan mulailah keliling di (Nishio, Hekinan dan Anjo) dengan mobil Kakak, dan pertama kali keliling adalah kakak yang menemaninya.
Kemudian ada usulan lagi dari temen supaya yang dikelilingkan jangan tempe saja, namun ditambah produk-produk Indonesia yang merupakan kebutuhan sehari-hari.
Berawal dari situlah, setiap hari Sabtu dan Minggu keliling dengan membawa tempe dan kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian mulailah menjalin kerja sama dengan Nanyang Trading, Perusahaan Importir produk-produk Asian termasuk produk Indonesia.
Semakin hari, semakin bertambah pelanggan dan permintaan, sebagai alternative adalah mengunakan mobil one box, untuk armada keliling. Sekitar bulan Juni 2004 saya mengunakan mobil one box untuk armada keliling. Karena Semakin hari jumlah barang semakin banyak, akhirnya pada bulan July 2004 hidjrah ke Hekinan, dan dihekinan itulah sebagai aktifitas keseharian. Supaya mudah di ingat oleh Masyarakat dan konsumen, Kakak mengusulkan nama SAHABAT.
Dengan nama SAHABAT itulah kami memiliki usaha kecil-kecilan, disamping setiap Sabtu & Minggu keliling juga ada toko kecil yang konsumennya temen-temen di di Hekinan dan Nishio. Karena ingin terus maju, sekitar bulan November 2004 sahabat pindah lokasi di Wilayah Nishio (pusat kota Nishio), dengan tempat baru itulah akhirnya nama SAHABAT berubah dengan nama SARIRAYA.
Karena Sariraya terus ingin maju dan berkembang, maka satu-satunya jalan supaya memiliki pondasi dan diakui keberadaannya oleh pemerintah Jepang, maka di daftarkan lah SARIRAYA sebagai Perusahaan Indonesia di Jepang pada bulan Desember 2004.
Sebagai syarat untuk mengurus dokumen perusahaan diperlukan Bukti ke pemilikan rekening tabungan yang dikeluarkan oleh Bank setempat. Setelah beberapa Bank kami coba tidak satupun bank mau mengeluarkan bukti kepemilikan tanbungan untuk mendirikan perusahaan. Namun niat kami terus ingin mencoba dan berusaha, Alhamdulillah setelah 5 Bank kami masuki, yang terahkir Okazaki Bank bersedia mengeluarkan bukti kepemilikan rekening tabungan atas nama saya. Dengan kelengkapan yang sudah kami siapkan, untuk proses selanjutnya kami serahkan ke NOTARIS guna pengurusan selanjutnya.
Oleh karena itu, Sariraya barangkali satu-satunya perusahaan di Jepang yang didirikan oleh Putra-putri Indonesia, dengan pendiri DR. Suyoto Rais, Teguh Wahyudi, Tri Umiati . Sariraya berusaha ingin selalu maju dan berkembang, dengan pengelolaan menegemen yang saat ini dibantu oleh sahabat-sahat Jepang pecinta untuk Indonesia. Sariraya berharap dengan melibatkan sahabat-sahabat Jepang pecinta untuk Indonesia, ini adalah sebagai langkah awal untuk SARIRAYA bisa diterima oleh Masyarakat Jepang pada umumnya, dan Sariraya bisa berkembang menjadi perusahaan dwi-nasional dan sekaligus media persahabatan antara rekan-rekan Indonesia dan sahabat-sahabat Jepang. Disamping bisnis, kami jugas mengadakan perkenalan musik/ budaya Indonesia, charity concert (misalnya Save Aceh di Aichi dan Osaka, Mei 2005) dan kegiatan amal/ persahabatan lainnya.
Bisnis SARIRAYA Co.,Ltd. meliputi: Produksi Tempe di Yonezu Nishio, Produksi Keripik Tempe di Yonezu Nishio, Produksi O-Bento di Nishio, Restoran di Nishio, Swalayan di Nishio, Impor Produk Indonesia.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Setiap pengusaha tentunya berkeinginan menjadi pengusaha yang sukses, terampil dengan sikap yang baik kepada pelanggan sehingga punya banyak langganan. Maka dari itu untuk membuat usaha patinya membuat perencanaan terlebih dahulu, yang merupakan program yang harus dilakukan.
Berdasarkan keterangan yang telah di uraikan, maka dapat di ambil kesimpulan antara lain :
1)      meningkatkan kesuksesan mayarakat terhadap barang yang diperjualbelikan maka dapat dilihat dari aspek warna, aroma, rasa, tekstur, pengepakan atau pembungkusannya dan kerenyahan maupun kegurihan, karena hal-hal tersebut dapat mempengaruhi keputuan pembelian.
2)      penulis menyimpulkan bahwa usaha yang dijalani mungkin ada kesulitan baik dari pembuatan, pemasaran, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA


http://inspirasiusahasukses.wordpress.com/2012/03/27/satu-lagi-mahasiswa-sukses-jadi-pengusaha-tempe/

No comments:

Post a Comment